Penyebab VOC Dibubarkan

Sebelum terjadinya kebangkrutan, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mengalami puncak kejayaan pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18. Wilayah kekuasaan VOC terbilang sangat luas, terbentang dari Amsterdam, Tanjung Harapan, India sampai Papua/Irian.

Dengan luasnya wilayah kekuasaan memberikan banyak sekali keuntungan yang didapatkan VOC dari perdagangan rempah-rempah yang melimpah. Namun, bukan berarti kekuasaannya yang semakin luas, VOC terhindar dari berbagai masalah.


Semakin luas daerah yang dikuasai, pengawasan pun semakin sulit. Sedangkan Batavia sebagai pusat pemerintahan VOC semakin ramai dan padat. Sehingga, titik fokus VOC pun akhirnya terbagi dan menyebabkan berbagai polemik atau permasalahan.

Alasan atau peyabab dibubarkannya VOC bukan karena kalah dalam persaingan dagang, melainkan ada masalah di “internal” VOC itu sendiri. Ada pihak yang berambisi untuk menguasai kekayaan yang dimiliki VOC sehingga berupaya untuk melakukan tindakan korupsi dan itu pasti sangat-sangat merugikan keuangan VOC.

Sebagai contoh, Gubernur Jenderal Van Hoom sempat bergelimang harta yang ditaksirkan memiliki kekaayaan sampai 10 juta gulden, sedangkan gaji resmi yang didapatkan dari VOC sebagai Gubernur hanya sebesar 700 gulden sebulan.

Harta yang dia miliki hanya untuk memanjakan keperluan hidup mewahnya dan hanya untuk berfoya-foya. Semua uang yang dia dapatkan dari uang upeti, sogokan dari calon pegawai, dan manipulasi setoran hasil pribumi.
Akibat dari banyaknya petinggi-petinggi VOC yang korupsi, VOC pun meninggalkan hutang sebesar 140 juta gulden. Pada waktu itu, keuntungan yang dimiliki VOC sebelumnya pun sedang turun drastiis. Bahkan, pada tahun 1673 VOC tidak mampu untuk membayar dividen. Kas yang dimiliki VOC pun juga merosot tajam akibat dari ulah para petingginya dan karena serangkaian perang  yang dilakukan VOC.


Berikut ini merupakan penyebab-penyebab VOC dibubarkan, antara lain:
  1. Banyaknya hutang yang dimiliki VOC.
  2. Banyaknya gaji yang dibayarkan VOC kepada pegawai.
  3. Banyaknya pegawai VOC yang melakukan tindakan korupsi.
  4. Banyaknya pengeluaran biaya akibat dari peperangan yang dilakukan VOC, contohnya peperangan melawan Hassanuddin dari Gowa.
  5. Adanya perubahan politik Belanda sehingga berdirinya Republik Batavia 1795 yang menganjurkan perdagangan bebas secara demokratis dan liberal.
  6. Persaingan dagang di Asia dengan Inggris dan Prancis semakin keras.
  7. Pembayaran dividen yang memberatkan VOC setelah mengalami krisis keuangan.
Akibat dari penyebab-penyebab tersebut, secara resmi VOC pun dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799. Selain meninggalkan hutang, VOC meninggalkan beberapa peninggalan seperti kantor dagang, kapal, benteng, gudang, dan daerah kekuasaan di Indonesia. Semua aset-aset VOC yang tersisa dialihkan ke Pemerintahan Belanda.